Evermore

May 23rd, 2008 by jon-sansiro

With all my heart I’ll say
I’m living for Your name
With all to give You praise
We’re living for your glory Lord

Lost for words with all to say
Lord You take my breath away
Still my soul, my soul cries out
For You are holy

And as I look upon Your name
Circumstances fade away
Now Your glory steals my heart

You are holy
You are holy Lord

Evermore my heart, my heart will say
Above all, I live for Your glory
Even if my world falls I will say
Above all, I live for Your glory

With all my heart I’ll say
I’m living for your name
With all to give you praise
We’re living for your glory Lord

———–

Puisi di atas adalah lirik dari lagu Evermore yang diciptakan oleh Hillsong, dari album "For All You’ve Done". Menceritakan bagaimana ungkapan syukur seseorang dalam kesadarannya memiliki Tuhan yang menguasai hidupnya, bahkan tarikan napasnya pun sudah ditentukan oleh Penciptanya. Tidak henti-hentinya orang tersebut memuji Tuhannya yang kudus dengan tulus. Bagaimanapun juga–secara pribadi–lagu ini adalah salah satu lagu favorit saya dari Hillsong. Karena dibawakan dengan sangat pas dalam album For All You’ve Done.

The Rat Race

January 3rd, 2008 by jon-sansiro

Rat_race

Gambar di atas adalah Rat Race, ilustrasi tikus yang mengejar kesuksesan tanpa henti sama seperti hidup yang kita lakukan setiap hari. Bangun pagi, berangkat kerja, pulang di sore atau malam hari, berlangsung 5 hari tiap minggu, 6 hari per minggu, atau malah tiap hari. Semua itu mirip dengan gambaran tikus yang berlari dalam roda tanpa henti.

Apa yang kita lakukan itu tidak salah–untuk mendapatkan penghasilan yang kita gunakan untuk mewujudkan rencana masa depan; bangun usaha sendiri, jalan-jalan ke luar negeri, membahagiakan keluarga, membeli rumah baru, mobil baru, atau apapun itu.

Namun, itu semua akan timbul pertanyaan: berapa lama waktu yang kita butuhkan untuk meraih masa depan kita? 5 tahun? 10 tahun? 20 tahun? 40 tahun? Selama-lamanya? Akankah hidup kita berakhir dengan baik bila menjalani cara seperti itu? Pertanyaan ini hanya bisa dijawab dari hati nurani kita masing-masing.

Dulu, orangtua mengajarkan kita untuk rajin belajar, sekolah yang pintar, dapat sekolah yang bagus, kuliah di perguruan tinggi yang bagus, lulus dengan nilai terbaik, lalu dapat kerja, berkeluarga, meninggal dengan tenang. Tetapi, apakah semua orang mendapatkan keadaan seperti itu? Tanda tanya besar.

Bila kita mendapatkan keadaan seperti itu, apakah hidup kita bahagia? Apakah keluarga bahagia?

Mungkin saja kita bekerja keras menukar waktu kita dengan uang. Semakin banyak uang, semakin kita bisa membahagiakan keluarga. Namun itu salah. Banyak uang tidak menjamin kehidupan keluarga bahagia. Semakin banyak yang kita dapatkan, semakin sibuk hidup kita, semakin sedikit waktu kita bersama keluarga. Bahkan waktu untuk Tuhan pun semakin sedikit. Apa yang terjadi? Broken home.

Semua yang kita harapkan untuk terjadi, lenyap. Keluarga tidak hanya membutuhkan uang kita, tetapi juga waktu kita. Akankah kita membahagiakan mereka dengan hidup di dalam Rat Race? Adakah Anda memiliki keseimbangan uang dan waktu untuk keluarga? Pertanyaan yang patut kita renungkan.

Pujian Augustinus

October 18th, 2006 by jon-sansiro

Kau besar, Tuhan, dan sangat terpuji; besar kekuatan-Mu, tak terbilang hikmat-Mu.

Manusia ingin memuji Engkau, yang sekadar sekeping dalam ciptaan-Mu,

Manusia yang ke mana pun menyandang kefanaannya,

Ke mana pun menyandang kesaksian dosanya

Serta kesaksian bahwa Kautentang orang yang congkak.

Meskipun demikian, manusia ingin memuji Engkau,

Yang hanya sembarang keping dalam ciptaan-Mu.

Engkaulah yang mendorongnya gemar memuji-Mu,

Karena Kaubuat kami mengarah kepadaMu.

Hati kami tak kunjung tenang Sampai tenang di dalam diri-Mu.

Materialisme

June 30th, 2006 by jon-sansiro

IBLIS ITU BERNAMA MATERIALISME

Seorang teman menjelaskan fasilitas-fasilitas dari telpon seluler yang dimilikinya. Telpon itu canggih, bisa digunakan untuk memotret, mendengarkan lagu, mendengarkan radio, mengakses internet, dan tentu saja untuk menelpon dan mengirim sms. Saya bertanya: ”Kenapa beli hape sampe yang harganya mahal begitu?”
”Biar trendi bos! Lu jangan-jangan gak ngikutin perkembangan teknologi ya?”

Saya berpikir, sebenarnya apa sih tujuan utama dari telpon selular tersebut? Bukankah hanya untuk menghubungi seseorang atau mengirim sms?
Dulu, televisi menyiarkan informasi atau hiburan. Tetapi, sekarang televisi menawarkan iklan-iklan yang membuat orang gatal mata. Barang-barang yang ditawarkan oleh media membuat air liur seseorang turun. Hiburan yang ditayangkan tidak lagi mendidik, yang disajikan hanyalah sinetron-sinetron yang menyajikan masalah percintaan, keluarga, kuasa, dan yang lebih penting lagi: jualan Tuhan. Tidak heran bila orang-orang yang menontonnya kehilangan gairah kerja. Mereka terpengaruh acara-acara tersebut. Mereka ingin menjadi seperti apa yang disajikan oleh televisi.
Untuk mengirim surat, dulu orang perlu pergi ke kantor pos, kini hanya diperlukan seperangkat unit komputer yang diperlengkapi oleh internet. Hanya dengan sekali ’klik’, berita yang kita kirim bisa sampai hanya dalam waktu tidak sampai 3 menit ke seluruh dunia.
Kemudahan-kemudahan itu memang menyenangkan, bisa menghemat tenaga, waktu, dan biaya. Tetapi, kemudahan-kemudahan tersebut menurunkan kualitas hidup seseorang.
Dengan kemajuan teknologi, kini orang mulai menjadi individualis, tidak lagi memikirkan orang lain, yang dipikirkan hanyalah kepentingannya sendiri. Teknologi yang sedemikian mudahnya itu kini menjadi tuhan baru bagi manusia. Visi hidup manusia untuk bekerja kini berubah: dapatkan uang lebih banyak, lebih banyak, lebih banyak, dan lebih banyak lagi. Mereka bekerja kalau perlu 7 X 24 jam seminggu untuk memperoleh apa yang mereka inginkan.
Iblis dengan sempurna memperdaya manusia. Tuhan ditinggalkan demi kesenangan semu yang ditawarkan Iblis.
Tuhan tidak lagi diindahkan, tempat ibadah adalah suatu museum dimana hanya ada beberapa orang saja yang mengunjunginya. Persekutuan pribadi yang indah dan menyenangkan dengan Tuhan tidak lagi dilakukan. Saya bertanya kepada seseorang teman:
”Bagaimana saat teduhmu hari ini?”
”Wah udah lama banget gue gak saat teduh, sibuk banget nyari duit yang banyak. Musti berangkat kerja pagi-pagi.”
”Kalo malem lu kemana?”
”Malem ngedugem dong”
”Sampe kapan lu seperti itu?”
”Sampe mati kali gue kaya gini. Seneng sih. Nanti kalo udah mau mati, baru deh gue tobat, rajin ke gereja.”
Sebenarnya, pantaskah menunggu hingga detik terakhir dari hidup di atas dunia ini untuk mengadakan transaksi dari urusan hidup yang paling penting, menyelesaikan utang-piutang dengan Allah? Selama hidup Allah memberikan kesempatan untuk bertobat, untuk mengambil jalan keselamatan yang ditawarkan. Tetapi, bila dengan sengaja orang tersebut menolak Kristus, dan minta diselamatkan di hari-hari terakhir hidupnya; saya hanya bisa memberikan kalimat dari apa yang tertulis di Alkitab: Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga. (Matius 7:21)

Mungkin kita khawatir bila tidak bisa mendapatkan apa yang kita inginkan. Mungkin kita khawatir dengan apa yang akan kita makan hari ini. Tetapi Tuhan Yesus berfirman: Sebab itu janganlah kamu kuatir dan berkata: Apakah yang akan kami makan? Apakah yang akan kami minum? Apakah yang akan kami pakai? Semua itu dicari bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah. Akan tetapi Bapamu yang di sorga tahu, bahwa kamu memerlukan semuanya itu. Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu. (Mat 6:31-33)
Janganlah kuatir akan hari esok. Bila kita memiliki Yesus dalam hidup kita dan menjalankan perintah-perintahNya, Ia pasti akan memelihara kita. Amin

Kehendak Bebas

June 26th, 2006 by jon-sansiro

Kejadian 3:4-5
Tetapi ular itu berkata kepada perempuan itu: “Sekali-kali kamu tidak akan mati, tetapi Allah mengetahui, bahwa pada waktu kamu memakannya matamu akan terbuka, dan kamu akan menjadi seperti Allah, tahu tentang yang baik dan yang jahat.”

2 Petrus 3:3
Yang terutama harus kamu ketahui ialah, bahwa pada hari-hari zaman akhir akan tampil pengejek-pengejek dengan ejekan-ejekannya, yaitu orang-orang yang hidup menuruti hawa nafsunya.

2 Timotius 3:1-4
Ketahuilah bahwa pada hari-hari terakhir akan datang masa yang sukar. Manusia akan mencintai dirinya sendiri dan menjadi hamba uang. Mereka akan membual dan menyombongkan diri, mereka akan menjadi pemfitnah, mereka akan berontak terhadap orang tua dan tidak tahu berterima kasih, tidak mempedulikan agama, tidak tahu mengasihi, tidak mau berdamai, suka menjelekkan orang, tidak dapat mengekang diri, garang, tidak suka yang baik, suka mengkhianat, tidak berpikir panjang, berlagak tahu, lebih menuruti hawa nafsu dari pada menuruti Allah. Secara lahiriah mereka menjalankan ibadah mereka, tetapi pada hakekatnya mereka memungkiri kekuatannya. Jauhilah mereka itu!

2 Timotius 4:3-4
Karena akan datang waktunya, orang tidak dapat lagi menerima ajaran sehat, tetapi mereka akan mengumpulkan guru-guru menurut kehendaknya untuk memuaskan keinginan telinganya. Mereka akan memalingkan telinganya dari kebenaran dan membukanya bagi dongeng.

The end is near, the end is here. But Jesus will drive out your fear!

Saatnya telah tiba. Bumi berada di ujung kehancuran. Bencana bukanlah hukuman Tuhan, tetapi akibat dari ulah manusia yang serakah. Alam berbalik melawan manusia karena manusia gagal untuk memeliharanya. Kehendak bebas yang diberikan Tuhan disalahgunakan sedemikian rupa demi kepentingan pribadi. Demi mendapatkan kesenangan-kesenangan semu yang ditawarkan Iblis.

Pada awalnya, manusia hidup bersama-sama dengan Allah. Di dalam persekutuan yang kekal denganNya. Manusia serupa dengan Allah. Tetapi, setelah kejatuhan manusia dalam pencobaan karena tergoda ingin menjadi seperti Allah, keserupaan itu rusak. Iblis berhasil untuk melukai hati Allah. Memang sejak pertama kali, Iblis selalu mencoba menjadi Allah. Hingga saat ini, ia menghasut umat manusia supaya mereka ingin menjadi seperti Allah.

Kemudahan-kemudahan dan kenikmatan duniawi ditawarkan oleh Iblis kepada manusia. Perlahan-lahan Tuhan ditinggalkan. Hedonisme, individualisme, materialisme, dan isme-isme dunia adalah tuhan-tuhan baru bagi manusia.

New Age Movement atau Gerakan Zaman Baru merupakan era keemasan bagi umat manusia ketika mereka ingin menjadi ’BEBAS’, mereka ingin seperti Tuhan; berbuat apa saja yang mereka inginkan.

Ego itupun terpenuhi. Tuhan-tuhan lokal bermunculan di sana-sini. Mereka menjadi tamak dan tidak lagi mau mendengar apa yang orang-orang tua mereka katakan. Kitab suci sudah selayaknya masuk museum.

Manusia tidak lagi mencari Tuhan, malah mereka pergi ke dukun-dukun untuk mencari kekuatan, berkat, pembenaran diri. Mereka yang masih takut akan Tuhan terhimpit oleh mereka yang hidup dalam kehendak bebas. Iblis berhasil menarik manusia menjadi pengikutnya. Gerakan Zaman Baru adalah puncak dari keberhasilan manusia sekaligus juga sebagai titik balik kehancuran manusia. Iblis pun tertawa dengan penuh kebencian.

Di akhir zaman nanti, kesusahan yang terbesar bukanlah kesusahan seperti pada saat penganiayaan orang-orang Kristen di zaman Romawi. Iblis sama sekali tidak ingin menindas mereka, sebaliknya, Iblis menawarkan kebebasan kepada semua orang! Iblis akan memberikan apapun kepada mereka yang menginginkan kenikmatan semu. Termasuk orang-orang yang takut akan Tuhan. Menggiurkan sekali bukan?

Apa yang harus kita lakukan? Maukah kita ikut kehendak Iblis yang penuh dengan kesenangan? Atau tunduk penuh kepada Tuhan? Bagaimana Iblis menggoda manusia polanya selalu sama sejak pertama kali ia beraksi di Taman Eden. Tujuannya hanya satu: membawa semua manusia ke neraka!

Bila Anda tidak ingin masuk neraka–percayalah, neraka itu ada dan Iblis merupakan penghuninya, berikan hatimu kepada Yesus, undang Dia untuk masuk ke dalam hatimu. Untuk menguasai seluruh hidupmu. Mintalah kepadaNya untuk mengampuni dosamu. Ia akan membuatmu baru. Yesus mengasihimu dan selalu mengasihimu, bahkan ketika Anda tidak mengasihiNya, Ia tetap mengasihi Anda. Kasih-Nya tidak terbatas dan tidak bersyarat. Bila Anda menerimaNya, Anda akan ikut bersama-sama dengan Yesus menuju surga. Bila Anda tetap menolak kasih-Nya, maka hukuman yang kekal menanti Anda.

Tuhan memberikan kehendak bebas. Bebas mengikut Iblis, atau bebas di dalam Tuhan; bebas yang bertanggungjawab. Kiranya Tuhan Yesus memberkati kita semua.

CATECHISM

June 12th, 2006 by jon-sansiro

One day The Lord came to me and asking:

“Son, do you know Who your creator is?”
I replied: “The Bible says: ‘For by Him all things were created. Things in heaven and on earth; visible and invisible; whether thrones or powers or rulers or authorities. All things were created by Him and for Him. He is before all things. And in Him all things hold together.’”

“So, how can you express yourself about ‘HIM?’”
“You are worthy our Lord and God to receive glory and honor and power. For you created all things. And by your will they were created and have their being.”

“Do you love your God?”
“I do. Since the Bible says: ‘Love the Lord your God with all your heart and with all your soul, and with all your mind, and with all your strength.’”

“But how can you love your God, God is perfect. God is in the most high. He is holy. You are an imperfect being. You cannot love Him. You’re a sinner.”
“The Bible says: ‘For God so loved the world that He gave His one and only Son. That whoever believes in Him shall not perish but have eternal life.’”

“That’s good. But you’re still a sinner. You always commit a sin. Will I forgive you?”
“The Bible says: ‘If we confess our sins, He is faithful and just, and will forgive us our sins and purify us from all unrighteousness.’”

“Having quoted verses from Bible, you are seemingly showing off your pride, indicating that you’re a clever person by answering My questions that way.”
“Forgive me Lord for I steal your glory that should be revealed through me. I do not deserve that . It is my flesh’s will stealing your glory. It is always be my weakness, but, The Bible says again: ‘My grace is sufficient for you. For My power is made perfect in weakness.’”

“Once again. I love you. Do you love me?”
“I do love you, Lord.”

“How can you show your love to me?”
“The Bible says: ‘This is love for God: to obey His commands. And His commands are not burdensome.’”

“Good. You will do it for the rest of your life. Do you remember what reward I will give you?”
“The Bible says: ‘Whoever has My commands and obeys them is the one who loves Me. He who loves Me will be loved by My Father. And I too will love him and show Myself to him.’”

to be continued….

The Great Battle in Heaven and on Earth

May 12th, 2006 by jon-sansiro

Revelation 12:7-9 (New International Version)
(7) And there was war in heaven. Michael and his angels fought against the dragon, and the dragon and his angels fought back. (8) But he was not strong enough, and they lost their place in heaven. (9) The great dragon was hurled down—that ancient serpent called the devil, or Satan, who leads the whole world astray. He was hurled to the earth, and his angels with him.

Luke 10:18-19 (New International Version)
(18) He (Jesus) replied, “I saw Satan fall like lightning from heaven. (19) I have given you authority to trample on snakes and scorpions and to overcome all the power of the enemy; nothing will harm you.

Jauh sebelum alam semesta ini diciptakan dan bumi dijadikan, ada malaikat di surga yang memiliki paras yang paling cantik yang pernah ada, suara yang paling merdu yang pernah didengar. Malaikat itu bernama Lucifer, komandan dari seluruh tentara malaikat surga. Akan tetapi, parasnya yang indah dan suaranya yang merdu membuat Lucifer menjadi tinggi hati. Ia tidak puas dengan apa yang ia miliki. Ia ingin lebih. Lucifer sang pembawa cahaya (Lat: lux = cahaya, ferre = pembawa), menginginkan agar seluruh alam semesta ini menjadi miliknya. Ia ingin menggantikan tempat Allah yang Mahakuasa.
Perang yang besar pun terjadi. Michael menggantikan posisi Lucifer sebagai komandan tentara malaikat surga. Lucifer dan pengikutnya gagal mengkudeta Allah. Michael dan pasukannya terlalu kuat buat mereka. Lucifer dan pasukannya dicampakkan dari surga.

Kini kita bisa melihat Lucifer di pagi hari. Lucifer memiliki arti bintang pagi
Isaiah 14:12 (New International Version)
(12) How you have fallen from heaven,
O morning star, son of the dawn!
You have been cast down to the earth,
you who once laid low the nations!
Bintang pagi itu adalah Venus. Entah kenapa hanya Planet Venus saja yang bercahaya di pagi hari.
Lucifer sudah berganti nama. Berbagai predikat dikenakannya: Si Ular Tua, Setan, Iblis, dan lain-lain. Sampai saat ini, Lucifer berkeliling dunia untuk membalas dendam. Ia mengajak semua orang supaya tidak menyembah Allah. Ia mau semua orang ikut dengannya ke Neraka karena ia sadar waktunya sudah sangat dekat dan kekuatannya pun terbatas.
Anak buah Lucifer yang lain yang terlempar ke bumi, kini bersemayam di seluruh penjuru bumi. Ada yang di udara, ada yang hutan-hutan, sungai-sungai, danau, bawah air, dalam laut, gunung-gunung, bahkan di bawah bumi. Mereka mengatur strategi bagaimana memenangkan jiwa bagi Iblis. Mereka mendidik para tukang sihir untuk menunjukkan kepada banyak orang supaya takjub dan ikut setan.

Menakutkan memang bila kita lihat. Akan tetapi, Yesus sudah memberikan kuasa supaya kita menang atas segala kuasa kegelapan. Dengan nama-Nya kita bisa melawan roh-roh jahat dan menang. Tidak ada nama yang lebih besar kuasa-Nya di atas muka bumi ini selain nama Yesus . Amin.

The Last Temptation of Christ

March 7th, 2006 by jon-sansiro

The Last Temptation of Christ–dikenal juga dengan The Last Temptation–adalah salah satu film favorit saya selain film-film dari Vivid Entertainment (heheheheheheh… becanda ding!). Diangkat dari novel karya Nikos Kazantzakis, di tahun 1951. Cerita ini telah menjadi subyek kontroversi yang sangat besar, terutama dari orang-orang yang beragama Kristen fanatik. The Last Temptation bercerita tentang kehidupan Yesus, diangkat dari sudut pandang sendiri dari sang penulis cerita ini. Novel The Last Temptation sukses menjadi salah satu buku yang di-banned.

Menurut saya, inti dari cerita ini sebenarnya bagus sekali–sangat bagus. Yesus, satu figur yang bersih dari dosa, pun diuji oleh berbagai macam pencobaan; ketakutan, keragu-raguan, tekanan, bahkan hasrat seksual. Semua pencobaan itu dihadapi dan ditaklukkan Yesus, Ia menjadi model yang sempurna bagi kehidupan manusia: seorang Juruselamat yang tidak hanya berkorban di kayu salib, tetapi juga berkorban mengalahkan semua keinginan daging dalam kehidupan sehari-hari untuk menjalankan kehendak Bapa-Nya di surga. Bukanlah suatu pekerjaan yang mudah bagi manusia biasa. Tetapi, Yesus tidak pernah menyimpang dari jalur-Nya–dari panggilan-Nya, Ia tidak menyerah kepada seluruh pencobaan tersebut. Itulah argumen dari Kazantzakis dalam kata pengantar novel yang ditulisnya.

Film The Last Temptation of Christ disutradarai oleh Martin Scorsese yang diadaptasi langsung dari novel karya Kazantzakis. Karena film ini, Scorsese dicap sebagai seorang Katolik yang sesat. Namun Scorsese tetap menjaga hubungan pribadinya dengan Kristus. Sejak dulu, Scorsese memang berniat untuk membuat film tentang kehidupan sehari-hari Yesus. Pertama kali, ia membuatnya pada tahun 1980, namun proyeknya harus ditunda. Pada tahun 1988, The Last Temptation of Christ berhasil diselesaikan dan dirilis di bioskop.

Protes-protes terhadap film The Last Temptation of Christ dari komunitas-komunitas Kristen bermunculan, bahkan sebelum film tersebut selesai diproduksi. Para pemuka agama di Amerika Serikat mengutuk film tersebut dan menganggapnya sebagai film yang dibumbui pornografi.

Pada 22 Oktober 1988, satu grup Katolik-Perancis melemparkan bom molotov ke dalam bioskop saint Michel di Paris sebagai suatu bentuk protes atas film yang ditayangkan. Aksi teror ini melukai tigabelas warga; empat di antaranya terkena luka bakar yang parah.

Sinopsis Cerita
Di awal film, Yesus–seorang tukang kayu di Nazaret–membuat salib-salib untuk tentara Roma. Kemudian Ia mendengar suara-suara aneh yang selalu memanggil-Nya (meskipun bagian ini sama sekali tidak ditulis di Kitab Suci). Ia menganggap suara tersebut berasal dari “Jehovah”.
Kontroversi dari The Last Temptation of Christ adalah di bagian akhir film ini. Ketika Yesus tidak mati di kayu salib dan malah menikahi Magdalene. Adegan seks dari pengantin baru (Yesus dan Magdalene) di film ini memicu kemarahan para protester.

Inti dari adegan kontroversial ini adalah bahwa Setan mencobai Yesus dengan mencoba memberikan kehidupan sebagai manusia biasa; kehidupan manusia yang selalu dipenuhi dengan berbagai macam masalah dan keinginan-keinginan daging; bukan suatu panggilan untuk mati di kayu salib sebagai Juruselamat umat manusia. Dalam rupa malaikat yang cantik, Setan menurunkan Yesus dari kayu salib, dan memberikan Ia kehidupan normal yang selama ini Yesus inginkan.

Dengan tipu daya Setan, Yesus menikah dan membangun sebuah keluarga. Di akhir hidup-Nya, murid Yesus yang setia, Yudas Iskariot, menegur Yesus dan menjelaskan apa yang sebenarnya sedang terjadi; Ia menganggap Yesus sebagai pengkhianat. Pengkhianatan Yudas agar Yesus mati dan berkarya di kayu salib untuk menyelamatkan umat manusia sia-sia saja (bdk. blog The Wall 2). Pada akhirnya, Yesus sadar bahwa Ia telah mengabaikan tugas-Nya; untuk mati di kayu salib sebagai Juruselamat umat manusia. Menyadari hal ini, bahwa Yesus telah dicobai oleh Setan dengan menikmati hidup sebagai manusia biasa, Ia merangkak keluar dari Jerusalem yang terbakar dengan penuh penyesalan, Ia memohon kepada Bapa-Nya di surga agar Ia kembali di salib dan menuntaskan tugas-Nya sebagai Juruselamat umat manusia. Setelah itu, Yesus dikembalikan ke kayu salib, dan terbangun dari mimpi-Nya. Ternyata itu semua adalah mimpi. Menyadari bahwa Ia telah menang dari seluruh pencobaan yang dialami-Nya, Ia berkata sebelum mati, “Sudah selesai.”

Film ini telah menuai banyak protes dari kalangan agamawan. Mengapa? Mungkin karena mereka tidak menonton filmnya sampai selesai. Mungkin mereka menonton hanya sampai ketika Yesus menikah dengan Magdalene dan melakukan hubungan seks (mungkin juga di bagian ini mereka mengulang-ulang adegannya terus menerus–hipokrat). Namun belakangan ini, pandangan-pandangan sudah berubah. Orang-orang bisa mengerti pesan yang disampaikan dari film ini (mungkin mereka sudah menontonnya sampai selesai). Betapa sulit menjalankan kehidupan yang Yesus alami. Di satu sisi Ia harus melakukan kehendak Bapa-Nya di surga, di lain sisi, Ia juga menginginkan kehidupan normal layaknya manusia biasa. Di sini, terlihat Yesus bergumul di antara dua pilihan itu. Namun Yesus tetap menjalankan kehendak Bapa-Nya di surga dan mengalahkan semua keinginan-Nya sendiri untuk hidup sebagai manusia biasa.

Film ini bagus untuk ditonton (sampai selesai). Bila tidak, mungkin juga Anda akan mengeluarkan kritik-kritik yang tidak obyektif terhadap film ini. Film ini secara tidak langsung memang tidak berdasar pada Kitab Suci. Namun, film ini merupakan hasil dari eksplorasi imajinasi dan pergumulan iman manusia terhadap Kristus. Segala sesuatunya mungkin telah dipertimbangkan matang-matang oleh Kazantzakis. So, tontonlah. Jangan memberikan kritik, jangan percaya kepada orang bahwa film ini tidak benar; setidaknya selesaikan dulu menonton film ini lalu Anda boleh memberikan komentar. God bless us.

The Wall (part 2)

March 1st, 2006 by jon-sansiro

Tidak ada satupun dalam kehidupan ini yang terjadi secara kebetulan dan runtuhnya Tembok Berlin adalah salah satu buktinya. Saya yakin akan hal itu dari cerita seorang teman. Teman saya ini adalah alumni senior Perkantas. Di salah satu acara alumni yang saya hadiri, sebagai salah satu pembicara, ia bercerita bahwa selama bertahun-tahun seluruh mahasiswa Kristen di seluruh dunia berdoa agar Jerman Barat dan Jerman Timur kembali bersatu. Akan tetapi, amat disayangkan bahwa beliau tidak ikut mendoakan agar rakyat Jerman kembali bersatu. Ia tidak mengindahkan semua ajakan untuk berdoa serentak. Sampai pada akhirnya beliau menyesal karena Tembok Berlin benar-benar runtuh. Ia menyayangkan karena tidak ikut berpartisipasi dalam proyek doa internasional tersebut.
Runtuhnya Tembok Berlin tersebut bukanlah karya manusia, melainkan Roh Kudus yang bekerja, yang berperan utama agar momen tersebut terjadi. Tugas manusia hanyalah berdoa supaya kemuliaan Tuhan dinyatakan melalui runtuhnya Tembok Berlin itu–dan memang Tuhan berkehendak.

Mendengar cerita tersebut, saya juga teringat pengalaman pribadi saya. Di buku renungan Our Daily Bread edisi Maret - Mei 2003, terlampir surat dari International Director-nya, yang meminta kepada seluruh pelanggan Our Daily Bread yang setia supaya berdoa selama bulan Juni 2003–kapan saja–supaya Our Daily Bread bisa diterjemahkan ke dalam bahasa Mongol, karena pada saat itu, RBC Ministry hendak menerjemahkan renungannya ke dalam bahasa Mongol, akan tetapi mereka menemui kesulitan.
Jadi, apa salahnya jika saya ikut ambil bagian? Maka selama bulan Juni 2003 saya berdoa agar rakyat Mongol bisa membaca renungan dari RBC Ministry dalam bahasa sehari-hari mereka. Hari demi hari berlalu, bulan Juni 2003 selesai. Saya tidak lagi mendoakan supaya Our Daily Bread diterjemahkan ke dalam bahasa Mongol dan saya pikir mungkin Our Daily Bread tidak akan pernah bisa diterjemahkan ke dalam bahasa Mongol.
Akan tetapi, apakah yang terjadi? Pada bulan Maret 2004, saya mendapat kabar gembira dari RBC Ministry, bahwa Our Daily Bread sudah diterjemahkan dan diterbitkan dalam bahasa Mongol. Bagi saya, pengalaman tersebut benar-benar menakjubkan dan tidak akan pernah saya lupakan. Saya boleh berpartisipasi dalam salah satu pekerjaan Roh Kudus supaya kerinduan rakyat Mongol untuk menikmati Our Daily Bread terpenuhi.
The Wall in Berlin bisa hancur karena kuasa doa, RBC Ministry bisa diterbitkan dalam seluruh bahasa-bahasa di dunia bukanlah kebetulan belaka. History bukanlah sejarah biasa. History adalah His story. Tuhan menyatakan kekuasaannya, kemuliaannya kepada semua orang tanpa kecuali. God is still working. He is doing His story. Past, present, future, and forever. May God be glorified!

Jeremy

February 21st, 2006 by jon-sansiro

Jeremy spoke in class today…
Jeremy spoke in class today…

Lirik di atas dikutip dari lagu berjudul Jeremy yang dibawakan oleh band grunge dari Seattle, Pearl Jam. Penulisan lagu ini diinspirasikan oleh satu berita di surat kabar tentang seorang anak laki-laki bernama Jeremy Wade Delle yang menembak dirinya di hadapan teman-temannya sekelasnya pada 8 Januari 1991. Jeremy Wade Delle, berumur 16 tahun ketika memuntahkan peluru Magnum kaliber 357 untuk mengakhiri hidupnya. Bisa kita lihat secara jelas cerita singkat mengenai Jeremy melalui video klip Jeremy yang digarap secara serius oleh Pearl Jam.
Entah apa yang menyebabkan Jeremy mengakhiri hidupnya secara tragis, tetapi, yang jelas kasus bunuh diri ini bukan satu-satunya saat itu. Masih banyak lagi bunuh diri yang dilakukan oleh para remaja dan masalah ini menjadi PR berat bagi negara Amerika.
Apa yang bisa disimpulkan secara awam mengenai Jeremy Wade Delle? Bila kita lihat dari video klip-nya Pearl Jam, Jeremy (diperankan oleh Trevor Wilson) adalah seorang anak yang pendiam, melankolik, broken home, orangtuanya bercerai (daddy didn’t give attention… and the boy was something that mommy wouldn’t wear…), ia memiliki masalah dengan teman-temannya; ia merasa dikucilkan–bahkan oleh gurunya sekalipun. Jeremy merasa frustasi sehingga ia tidak berpikir panjang dan memutuskan untuk pergi dari kehidupan di dunia ini.
Alangkah bodohnya bila kita juga berpikir seperti itu. Bila kita merasa bahwa kita adalah pribadi yang tidak berguna–dikarenakan latarbelakang yang serupa dengan Jeremy.
Vokalis Pearl Jam, Eddie Vedder memberikan pernyataan dari lagu yang ditulisnya demikian: “you kill yourself and you make a big old sacrifice and try to get your revenge. That all you’re gonna end up with is a paragraph in a newspaper. [...] it does nothing … nothing changes. The world goes on and you’re gone. The best revenge is to live on and prove yourself. Be stronger than those people. And then you can come back”. Yang artinya “kamu akhiri hidupmu dan membuat suatu pengorbanan agar rasa kekecewaanmu (dendam) terbalas. Tetapi yang akan tertulis di surat kabar adalah sia-sia, pengorbananmu sia-sia belaka. Roda kehidupan terus berputar tetapi kamu sudah tidak ada lagi. Satu-satunya cara mengobati kekecewaan adalah dengan terus bertahan hidup dan membuktikan bahwa kamu memang lebih baik dari orang-orang yang mengecewakanmu.
Cukup menarik memang artikel ini, sering kali kita merasa bahwa kita adalah orang yang gagal, tidak berguna. Akan tetapi, bagaimana mengatasi hal itu? Seperti lingkaran setan bahwa kita terus menganggap diri kita gagal. Lingkaran itu bisa dihancurkan, lingkaran itu bisa dipatahkan. Ingatlah selalu bahwa manusia merupakan ciptaan yang berharga di mata Tuhan. Atas dasar apa manusia menganggap manusia lain gagal, atau tidak berguna? Siapakah yang berhak menentukan? Apakah kenyataannya memang seperti itu? Ternyata tidak. Semua itu hanyalah pemikiran kita sendiri bahwa kita tidak berguna. Mengucapsyukurlah atas apa yang terjadi. Baik atau buruk (menurut pemikiran kita). Dan selalu ingat, semua itu tidak terjadi secara kebetulan. Ada sesuatu yang membuat kita harus mengalami seperti itu agar hidup kita menjadi lebih baik.
Amin.