Archive for February, 2006

Jeremy

Tuesday, February 21st, 2006

Jeremy spoke in class today…
Jeremy spoke in class today…

Lirik di atas dikutip dari lagu berjudul Jeremy yang dibawakan oleh band grunge dari Seattle, Pearl Jam. Penulisan lagu ini diinspirasikan oleh satu berita di surat kabar tentang seorang anak laki-laki bernama Jeremy Wade Delle yang menembak dirinya di hadapan teman-temannya sekelasnya pada 8 Januari 1991. Jeremy Wade Delle, berumur 16 tahun ketika memuntahkan peluru Magnum kaliber 357 untuk mengakhiri hidupnya. Bisa kita lihat secara jelas cerita singkat mengenai Jeremy melalui video klip Jeremy yang digarap secara serius oleh Pearl Jam.
Entah apa yang menyebabkan Jeremy mengakhiri hidupnya secara tragis, tetapi, yang jelas kasus bunuh diri ini bukan satu-satunya saat itu. Masih banyak lagi bunuh diri yang dilakukan oleh para remaja dan masalah ini menjadi PR berat bagi negara Amerika.
Apa yang bisa disimpulkan secara awam mengenai Jeremy Wade Delle? Bila kita lihat dari video klip-nya Pearl Jam, Jeremy (diperankan oleh Trevor Wilson) adalah seorang anak yang pendiam, melankolik, broken home, orangtuanya bercerai (daddy didn’t give attention… and the boy was something that mommy wouldn’t wear…), ia memiliki masalah dengan teman-temannya; ia merasa dikucilkan–bahkan oleh gurunya sekalipun. Jeremy merasa frustasi sehingga ia tidak berpikir panjang dan memutuskan untuk pergi dari kehidupan di dunia ini.
Alangkah bodohnya bila kita juga berpikir seperti itu. Bila kita merasa bahwa kita adalah pribadi yang tidak berguna–dikarenakan latarbelakang yang serupa dengan Jeremy.
Vokalis Pearl Jam, Eddie Vedder memberikan pernyataan dari lagu yang ditulisnya demikian: “you kill yourself and you make a big old sacrifice and try to get your revenge. That all you’re gonna end up with is a paragraph in a newspaper. [...] it does nothing … nothing changes. The world goes on and you’re gone. The best revenge is to live on and prove yourself. Be stronger than those people. And then you can come back”. Yang artinya “kamu akhiri hidupmu dan membuat suatu pengorbanan agar rasa kekecewaanmu (dendam) terbalas. Tetapi yang akan tertulis di surat kabar adalah sia-sia, pengorbananmu sia-sia belaka. Roda kehidupan terus berputar tetapi kamu sudah tidak ada lagi. Satu-satunya cara mengobati kekecewaan adalah dengan terus bertahan hidup dan membuktikan bahwa kamu memang lebih baik dari orang-orang yang mengecewakanmu.
Cukup menarik memang artikel ini, sering kali kita merasa bahwa kita adalah orang yang gagal, tidak berguna. Akan tetapi, bagaimana mengatasi hal itu? Seperti lingkaran setan bahwa kita terus menganggap diri kita gagal. Lingkaran itu bisa dihancurkan, lingkaran itu bisa dipatahkan. Ingatlah selalu bahwa manusia merupakan ciptaan yang berharga di mata Tuhan. Atas dasar apa manusia menganggap manusia lain gagal, atau tidak berguna? Siapakah yang berhak menentukan? Apakah kenyataannya memang seperti itu? Ternyata tidak. Semua itu hanyalah pemikiran kita sendiri bahwa kita tidak berguna. Mengucapsyukurlah atas apa yang terjadi. Baik atau buruk (menurut pemikiran kita). Dan selalu ingat, semua itu tidak terjadi secara kebetulan. Ada sesuatu yang membuat kita harus mengalami seperti itu agar hidup kita menjadi lebih baik.
Amin.

The Wall (part 1)

Wednesday, February 15th, 2006

Tembok besar sepanjang 155 km yang memisahkan Berlin Barat dan Berlin Timur akhirnya hancur. Ribuan penduduk Berlin Timur berdesakan untuk menerobos tembok pemisah itu pada 9 November 1989 setelah mendengar Günter Schabowski–Menteri Propaganda Jerman Timur–membacakan kebijakan mengenai diijinkannya penduduk Berlin Timur untuk pergi ke Berlin Barat hanya dengan menunjukkan kartu identitasnya. Peraturan baru itu seharusnya diinformasikan terlebih dahulu oleh Schabowski kepada petugas yang menjaga gerbang Berlin Timur dan diumumkan pada pagi berikutnya.
Nasi sudah menjadi bubur, ribuan East Berliners memaksa untuk keluar dari Jerman Timur, menuju Jerman Barat–tempat kebebasan dari Fasisme. Menurut peraturan yang berlaku, petugas berhak menembak setiap orang yang memaksa keluar dan melarikan diri dari Berlin Barat. Akan tetapi, mungkinkah untuk menembaki semua penduduk Berlin Timur yang melarikan diri? Mungkinkah dilakukan pembunuhan masal? Massa tidak mau tahu akan hal itu, mereka segera beraksi setelah mendengar pernyataan yang diungkapkan oleh Tuan Schabowski. Mereka rindu untuk bertemu dengan saudara-saudara sebangsa dan setanah air yang ada di Berlin Barat.
Petugas dan penjaga gerbang akhirnya menyerah karena tidak mungkin mereka menembaki teman-teman sebangsa. Mereka membukakan gerbang dan setidaknya memeriksa setiap penduduk yang memiliki KTP resmi.
Exodus-nya East Berliners disambut meriah oleh para West Berliners yang juga rindu untuk bersama-sama lagi dengan mereka. Hari itu juga, pada tanggal 9 November 1989 diperingati sebagai “Hari Runtuhnya Tembok Berlin”. Beberapa hari kemudian, “The Germans” berbondong-bondong datang ke Tembok Berlin sambil membawa palu. Beramai-ramai mereka menghancurkan tembok yang sudah puluhan tahun memisahkan Jerman Barat dan Jerman Timur.
Suatu kebetulankah ini? Saya pikir tidak. Karena saya meyakini bahwa tidak ada sesuatupun yang terjadi secara kebetulan dalam kehidupan ini.