The Last Temptation of Christ
Tuesday, March 7th, 2006The Last Temptation of Christ–dikenal juga dengan The Last Temptation–adalah salah satu film favorit saya selain film-film dari Vivid Entertainment (heheheheheheh… becanda ding!). Diangkat dari novel karya Nikos Kazantzakis, di tahun 1951. Cerita ini telah menjadi subyek kontroversi yang sangat besar, terutama dari orang-orang yang beragama Kristen fanatik. The Last Temptation bercerita tentang kehidupan Yesus, diangkat dari sudut pandang sendiri dari sang penulis cerita ini. Novel The Last Temptation sukses menjadi salah satu buku yang di-banned.
Menurut saya, inti dari cerita ini sebenarnya bagus sekali–sangat bagus. Yesus, satu figur yang bersih dari dosa, pun diuji oleh berbagai macam pencobaan; ketakutan, keragu-raguan, tekanan, bahkan hasrat seksual. Semua pencobaan itu dihadapi dan ditaklukkan Yesus, Ia menjadi model yang sempurna bagi kehidupan manusia: seorang Juruselamat yang tidak hanya berkorban di kayu salib, tetapi juga berkorban mengalahkan semua keinginan daging dalam kehidupan sehari-hari untuk menjalankan kehendak Bapa-Nya di surga. Bukanlah suatu pekerjaan yang mudah bagi manusia biasa. Tetapi, Yesus tidak pernah menyimpang dari jalur-Nya–dari panggilan-Nya, Ia tidak menyerah kepada seluruh pencobaan tersebut. Itulah argumen dari Kazantzakis dalam kata pengantar novel yang ditulisnya.
Film The Last Temptation of Christ disutradarai oleh Martin Scorsese yang diadaptasi langsung dari novel karya Kazantzakis. Karena film ini, Scorsese dicap sebagai seorang Katolik yang sesat. Namun Scorsese tetap menjaga hubungan pribadinya dengan Kristus. Sejak dulu, Scorsese memang berniat untuk membuat film tentang kehidupan sehari-hari Yesus. Pertama kali, ia membuatnya pada tahun 1980, namun proyeknya harus ditunda. Pada tahun 1988, The Last Temptation of Christ berhasil diselesaikan dan dirilis di bioskop.
Protes-protes terhadap film The Last Temptation of Christ dari komunitas-komunitas Kristen bermunculan, bahkan sebelum film tersebut selesai diproduksi. Para pemuka agama di Amerika Serikat mengutuk film tersebut dan menganggapnya sebagai film yang dibumbui pornografi.
Pada 22 Oktober 1988, satu grup Katolik-Perancis melemparkan bom molotov ke dalam bioskop saint Michel di Paris sebagai suatu bentuk protes atas film yang ditayangkan. Aksi teror ini melukai tigabelas warga; empat di antaranya terkena luka bakar yang parah.
Sinopsis Cerita
Di awal film, Yesus–seorang tukang kayu di Nazaret–membuat salib-salib untuk tentara Roma. Kemudian Ia mendengar suara-suara aneh yang selalu memanggil-Nya (meskipun bagian ini sama sekali tidak ditulis di Kitab Suci). Ia menganggap suara tersebut berasal dari “Jehovah”.
Kontroversi dari The Last Temptation of Christ adalah di bagian akhir film ini. Ketika Yesus tidak mati di kayu salib dan malah menikahi Magdalene. Adegan seks dari pengantin baru (Yesus dan Magdalene) di film ini memicu kemarahan para protester.
Inti dari adegan kontroversial ini adalah bahwa Setan mencobai Yesus dengan mencoba memberikan kehidupan sebagai manusia biasa; kehidupan manusia yang selalu dipenuhi dengan berbagai macam masalah dan keinginan-keinginan daging; bukan suatu panggilan untuk mati di kayu salib sebagai Juruselamat umat manusia. Dalam rupa malaikat yang cantik, Setan menurunkan Yesus dari kayu salib, dan memberikan Ia kehidupan normal yang selama ini Yesus inginkan.
Dengan tipu daya Setan, Yesus menikah dan membangun sebuah keluarga. Di akhir hidup-Nya, murid Yesus yang setia, Yudas Iskariot, menegur Yesus dan menjelaskan apa yang sebenarnya sedang terjadi; Ia menganggap Yesus sebagai pengkhianat. Pengkhianatan Yudas agar Yesus mati dan berkarya di kayu salib untuk menyelamatkan umat manusia sia-sia saja (bdk. blog The Wall 2). Pada akhirnya, Yesus sadar bahwa Ia telah mengabaikan tugas-Nya; untuk mati di kayu salib sebagai Juruselamat umat manusia. Menyadari hal ini, bahwa Yesus telah dicobai oleh Setan dengan menikmati hidup sebagai manusia biasa, Ia merangkak keluar dari Jerusalem yang terbakar dengan penuh penyesalan, Ia memohon kepada Bapa-Nya di surga agar Ia kembali di salib dan menuntaskan tugas-Nya sebagai Juruselamat umat manusia. Setelah itu, Yesus dikembalikan ke kayu salib, dan terbangun dari mimpi-Nya. Ternyata itu semua adalah mimpi. Menyadari bahwa Ia telah menang dari seluruh pencobaan yang dialami-Nya, Ia berkata sebelum mati, “Sudah selesai.”
Film ini telah menuai banyak protes dari kalangan agamawan. Mengapa? Mungkin karena mereka tidak menonton filmnya sampai selesai. Mungkin mereka menonton hanya sampai ketika Yesus menikah dengan Magdalene dan melakukan hubungan seks (mungkin juga di bagian ini mereka mengulang-ulang adegannya terus menerus–hipokrat). Namun belakangan ini, pandangan-pandangan sudah berubah. Orang-orang bisa mengerti pesan yang disampaikan dari film ini (mungkin mereka sudah menontonnya sampai selesai). Betapa sulit menjalankan kehidupan yang Yesus alami. Di satu sisi Ia harus melakukan kehendak Bapa-Nya di surga, di lain sisi, Ia juga menginginkan kehidupan normal layaknya manusia biasa. Di sini, terlihat Yesus bergumul di antara dua pilihan itu. Namun Yesus tetap menjalankan kehendak Bapa-Nya di surga dan mengalahkan semua keinginan-Nya sendiri untuk hidup sebagai manusia biasa.
Film ini bagus untuk ditonton (sampai selesai). Bila tidak, mungkin juga Anda akan mengeluarkan kritik-kritik yang tidak obyektif terhadap film ini. Film ini secara tidak langsung memang tidak berdasar pada Kitab Suci. Namun, film ini merupakan hasil dari eksplorasi imajinasi dan pergumulan iman manusia terhadap Kristus. Segala sesuatunya mungkin telah dipertimbangkan matang-matang oleh Kazantzakis. So, tontonlah. Jangan memberikan kritik, jangan percaya kepada orang bahwa film ini tidak benar; setidaknya selesaikan dulu menonton film ini lalu Anda boleh memberikan komentar. God bless us.