The Wall (part 2)
Tidak ada satupun dalam kehidupan ini yang terjadi secara kebetulan dan runtuhnya Tembok Berlin adalah salah satu buktinya. Saya yakin akan hal itu dari cerita seorang teman. Teman saya ini adalah alumni senior Perkantas. Di salah satu acara alumni yang saya hadiri, sebagai salah satu pembicara, ia bercerita bahwa selama bertahun-tahun seluruh mahasiswa Kristen di seluruh dunia berdoa agar Jerman Barat dan Jerman Timur kembali bersatu. Akan tetapi, amat disayangkan bahwa beliau tidak ikut mendoakan agar rakyat Jerman kembali bersatu. Ia tidak mengindahkan semua ajakan untuk berdoa serentak. Sampai pada akhirnya beliau menyesal karena Tembok Berlin benar-benar runtuh. Ia menyayangkan karena tidak ikut berpartisipasi dalam proyek doa internasional tersebut.
Runtuhnya Tembok Berlin tersebut bukanlah karya manusia, melainkan Roh Kudus yang bekerja, yang berperan utama agar momen tersebut terjadi. Tugas manusia hanyalah berdoa supaya kemuliaan Tuhan dinyatakan melalui runtuhnya Tembok Berlin itu–dan memang Tuhan berkehendak.
Mendengar cerita tersebut, saya juga teringat pengalaman pribadi saya. Di buku renungan Our Daily Bread edisi Maret - Mei 2003, terlampir surat dari International Director-nya, yang meminta kepada seluruh pelanggan Our Daily Bread yang setia supaya berdoa selama bulan Juni 2003–kapan saja–supaya Our Daily Bread bisa diterjemahkan ke dalam bahasa Mongol, karena pada saat itu, RBC Ministry hendak menerjemahkan renungannya ke dalam bahasa Mongol, akan tetapi mereka menemui kesulitan.
Jadi, apa salahnya jika saya ikut ambil bagian? Maka selama bulan Juni 2003 saya berdoa agar rakyat Mongol bisa membaca renungan dari RBC Ministry dalam bahasa sehari-hari mereka. Hari demi hari berlalu, bulan Juni 2003 selesai. Saya tidak lagi mendoakan supaya Our Daily Bread diterjemahkan ke dalam bahasa Mongol dan saya pikir mungkin Our Daily Bread tidak akan pernah bisa diterjemahkan ke dalam bahasa Mongol.
Akan tetapi, apakah yang terjadi? Pada bulan Maret 2004, saya mendapat kabar gembira dari RBC Ministry, bahwa Our Daily Bread sudah diterjemahkan dan diterbitkan dalam bahasa Mongol. Bagi saya, pengalaman tersebut benar-benar menakjubkan dan tidak akan pernah saya lupakan. Saya boleh berpartisipasi dalam salah satu pekerjaan Roh Kudus supaya kerinduan rakyat Mongol untuk menikmati Our Daily Bread terpenuhi.
The Wall in Berlin bisa hancur karena kuasa doa, RBC Ministry bisa diterbitkan dalam seluruh bahasa-bahasa di dunia bukanlah kebetulan belaka. History bukanlah sejarah biasa. History adalah His story. Tuhan menyatakan kekuasaannya, kemuliaannya kepada semua orang tanpa kecuali. God is still working. He is doing His story. Past, present, future, and forever. May God be glorified!
March 1st, 2006 at 3:42 pm
ya,tidak ada satupun yang terjadi secara kebetulan!
rencana Allah sempurna adanya…
tidak ada yang salah,atau gagal..
makasih bikin aku sadar lagi,kalo Allah punya rencana yang sempurna untukku saat ini..
walau saat ini terasa berat,tapi aku yakin aku ga jalan sendiri kok…
aku punya ALLAH yang hebat …
may God be glorified!
May 14th, 2006 at 6:20 am
YEAH, GLORIFIED GOD! huhuhu.. ikut ikutan aja neh si alfredo :p
September 3rd, 2006 at 10:49 pm
I read this blog…
its right.. sering sekali manusia gak sabar menanti jawaban Tuhan ato ambil jawaban sendiri…..
ya.. termasuk aku..
thanks