The Wall (part 1)

February 15th, 2006 by jon-sansiro

Tembok besar sepanjang 155 km yang memisahkan Berlin Barat dan Berlin Timur akhirnya hancur. Ribuan penduduk Berlin Timur berdesakan untuk menerobos tembok pemisah itu pada 9 November 1989 setelah mendengar Günter Schabowski–Menteri Propaganda Jerman Timur–membacakan kebijakan mengenai diijinkannya penduduk Berlin Timur untuk pergi ke Berlin Barat hanya dengan menunjukkan kartu identitasnya. Peraturan baru itu seharusnya diinformasikan terlebih dahulu oleh Schabowski kepada petugas yang menjaga gerbang Berlin Timur dan diumumkan pada pagi berikutnya.
Nasi sudah menjadi bubur, ribuan East Berliners memaksa untuk keluar dari Jerman Timur, menuju Jerman Barat–tempat kebebasan dari Fasisme. Menurut peraturan yang berlaku, petugas berhak menembak setiap orang yang memaksa keluar dan melarikan diri dari Berlin Barat. Akan tetapi, mungkinkah untuk menembaki semua penduduk Berlin Timur yang melarikan diri? Mungkinkah dilakukan pembunuhan masal? Massa tidak mau tahu akan hal itu, mereka segera beraksi setelah mendengar pernyataan yang diungkapkan oleh Tuan Schabowski. Mereka rindu untuk bertemu dengan saudara-saudara sebangsa dan setanah air yang ada di Berlin Barat.
Petugas dan penjaga gerbang akhirnya menyerah karena tidak mungkin mereka menembaki teman-teman sebangsa. Mereka membukakan gerbang dan setidaknya memeriksa setiap penduduk yang memiliki KTP resmi.
Exodus-nya East Berliners disambut meriah oleh para West Berliners yang juga rindu untuk bersama-sama lagi dengan mereka. Hari itu juga, pada tanggal 9 November 1989 diperingati sebagai “Hari Runtuhnya Tembok Berlin”. Beberapa hari kemudian, “The Germans” berbondong-bondong datang ke Tembok Berlin sambil membawa palu. Beramai-ramai mereka menghancurkan tembok yang sudah puluhan tahun memisahkan Jerman Barat dan Jerman Timur.
Suatu kebetulankah ini? Saya pikir tidak. Karena saya meyakini bahwa tidak ada sesuatupun yang terjadi secara kebetulan dalam kehidupan ini.

Perjalanan Panjang 2

December 18th, 2005 by jon-sansiro

Perjalanan panjang kembali dimulai. Setelah 3 bulan penyiksaan latian gitar tangan kiri dan tangan kanan, kini diberikan lagi materi baru yang tidak kalah menyiksa. Vibra adalah teknik dasar lanjutan yang harus dikuasai. Bending ke bawah dan bending ke atas menggunakan jari telunjuk, tengah dan manis dan dibantu pergelangan tangan. SAKIT! SAKIT! Itulah yang dirasa ketika pertama kali latihan. Setelah mendapatkan jari tangan yang lecet-lecet. Kini terlihatlah sedikit hasilnya. Jadi sedikit lebih kuat untuk ndorong ke atas dan narik senar ke bawah. Sound yang diidam-idamkan kini muncul. “bletak! bletak! bletak!” suara senar gitar yang dipetik kini seperti itu. Tegas. Jelas. heheheh… Udah gitu dulu, mo latian lagi. Bukan berarti penyiksaan sebelumnya berakhir. Penyiksaan pertama ga akan pernah selesai, begitu juga penyiksaan yang kedua, dan akan ada lagi penyiksaan selanjutnya.

pengalaman pertama masang senar gitar

November 27th, 2005 by jon-sansiro

pada akhirnya, untuk pertama kali, gw belajar masang senar gitar….. gitar yang senarnya hendak diganti adalah Yamaha F310 gw, senar yang baru dibeli adalah D’addario (senar gitar listrik–kata temen sih hasilnya nanti lebih enteng).

Waaaaa, ga ngerti nyopot senarnya. Pada akhirnya musti nelpon temen gimana cara masangnya (kacau nih). Setelah didatengin, dan diajarin sedikit cara masangnya, ngerti deh. Gw bisa masang semua. Tinggal nyetemnya aja. Ternyata… senar pertamanya PUTUS! (sayang banget!!!!) gara-gara nyetemnya ketinggian. Sori, ini pengalaman pertama (belum tau standarnya). Ujung2nya, senar asli dari Yamaha F310 musti balik ke tempatnya semula. Setelah beberapa menit nyetem, akhirnya bisa maen lagi deh…. 1/2, 1/4, 1/8 go picking, go! go fingering, go!

Perjalanan Panjang II

October 18th, 2005 by jon-sansiro

Kurikulum baru:

Sekarang gue udah ngerti cara bermain lead gitar setelah tanya sana-tanya sini. tinggal pengembangannya yang butuh waktu dan latihan. Kini, yang harus dilakukan adalah menghapal seluruh posisi not yang ada di senar-senar gitar (alamak! banyak amat). Untungnya, ketika kita bermain lead, ternyata nada yang disarankan untuk dimainkan hanyalah nada pentatoniknya saja. Gitu loh.

Someday I pray:

"God, I wanna make a music band. Will you grant me this wish?"

God replies:

"Indeed, my son, you do"

conclusion: what you ask, you do.

pelajaran yang bikin bete!

September 1st, 2005 by jon-sansiro

Sungguh deh! Kaga ada yang lebih bete daripada belajar gitar dasar! Masak cuma fingering, picking, up-stroke & down-stroke, arpeggio 1-3-5. Udah gitu-gitu doang. Mungkin sekarang belum terasa efeknya. Mungkin nanti. Mungkin bila nanti, kita ‘kan bertemu lagi (halah, peterpan!).

Awal Perjalanan Panjang

August 14th, 2005 by jon-sansiro

Pada akhirnya, langkah awal untuk mewujudkan mimpi itu tercapai juga. Mau gak mau gue musti ngambil les gitar! Karena emang musti ngambil biar gue ngerti apa itu musik melalui gitar. Tahun pertama mempelajari rhythm, kini memasuki tahun kedua udah harus belajar lead ato melody. Cape genjreng-genjreng doang. Kan musti bisa meng-create sendiri, itu tujuan gue.

Awal pelajaran dimulai dengan pengetahuan nada dasar C (karna itu yang paling standar dan paling gampang). Bagaimana kord C itu terbentuk beserta nada mayor dan minor lainnya. Lalu PR di rumah musti berlatih petikan C Major, D minor, E minor, F Major, G Major, dan A minor. Awalnya sih susah, tapi lama-lama terbiasa juga mengkeritingkan jari beserta pergelangan tangan.

Mimpi untuk bikin band musti terwujud. Band rock atau blue band pokoknya band! Pelan-pelan aja, ntar juga nyampe.

Darth Vader

August 3rd, 2005 by jon-sansiro

Ooh, Darth Vader

Ada apa denganmu Darth Vader a.k.a. Anakin Skywalker? Mengapa rupamu yang menyeramkan membuat teman-teman friendster-ku kabur semua? Padahal di lubuk hatimu yang terdalam engkau masih memiliki kebaikan hati. Aku menggunakan fotomu hanya untuk memancing para pencinta film Star Wars, tidak lebih. Apakah mereka lebih menyukai tampangmu sebelum berubah menjadi Darth Vader? Ga tau ya!?

Aku Tak Pernah Bisa

April 16th, 2005 by jon-sansiro

Oktober 2004 adalah saat yang paling mengenaskan buatku; ketika kekecewaan melanda hidupku. Mungkin momen itu adalah momen di mana aku berada dalam titik terendah semangat hidupku, namun, di lain sisi, momen itu adalah suatu perjalanan hidupku yang baru.

Saat itu seseorang yang kuharapkan–mungkin, akan jadi bagian hidupku–pergi. Pergi tanpa pesan. Entah ke mana. Akan tetapi, peristiwa itu memaksa diriku untuk mempelajari sesuatu yang baru. Di mana ku mencoba menuangkan seluruh perasaanku ke dalam musik. Lagu Saat Kau Tak Di Sini milik Jikustik adalah lagu pertamaku ketika aku belajar bermain alat musik (yang seharusnya semua orang bisa memainkannya–gitar). He, he, he, he… tak disangka, alat musik yang kupikir dulu aku sangat sulit untuk memainkannya, kini telah kukuasai (meski belum sepenuhnya). Tapi aku bersyukur, dari peristiwa itu aku bisa belajar untuk merelakan orang lain pergi.

Mungkin, seolah-olah aku mati pada saat itu. Aku dikubur, dan kusaksikan sendiri peristiwa penguburan itu dalam bentuk kehidupan yang baru; yang penuh dengan semangat baru.

Terimakasih untuk orang yang telah meninggalkanku pergi, dan terimakasih juga karna ia telah kembali. I–no can do forget you. You’ve been attached to my life, you were gone; and now you are back. We’ll be friend forever…. It’s a pledge. (what stupid sentiment story)